Author: frankieruntuwene

Prancis tutup kedutaan di 20 negara

 

Laurent Fabius mengatakan pengamanan di berbagai kepentingan Prancis ditingkatkan.

Prancis menyatakan akan menutup sementara kedutaan, konsulat, pusat kebudayaan dan sekolahnya di sekitar 20 negara pada hari Jumat mendatang (21/09) setelah majalah Prancis menerbitkan karikatur Nabi Muhammad yang dianggap dapat semakin menimbulkan ketegangan setelah sembayang Jumat.

Penutupan sementara tersebut dilakukan sebagai langkah jaga-jaga. Khusus untuk Tunisia, pemerintah Prancis memerintahkan Kedutaan Besar dan sekolah Prancis ditutup.

Selain Kedutaan Besar Prancis di Tunisia, belum jelas kedutaan-kedutaan lain yang akan ditutup.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengatakan ia khawatir akan 20 karikatur yang diterbitkan di majalah satiris Charlie Hebdo.

Karikatur itu mengolok-olok protes berbau kekerasan baru-baru ini untuk menentang Amerika Serikat yang dipicu oleh film yang dianggap menghina Nabi Muhammad dan dibuat di Amerika.

Laurent Fabius khawatir penerbitan karikatur ini akan semakin memperluas protes film anti-Islam yang terjadi sejak pekan lalu. Fabius mengatakan langkah pengamanan diterapkan di Konsulat dan Kedutaan Besar Prancis di seluruh dunia.

“Jelas saya telah memberikan instruksi sehingga langkah-langkah pengamanan khusus diambil di semua negara yang berisiko timbul masalah dan bahwa semua warga negara kita harus berhati-hati,” kata Menlu Prancis.

Kementerian Luar Negeri juga menerbitkan peringatan perjalanan kepada warga Prancis di negara-negara Muslim untuk “sangat waspada”, menghindari kerumunan massa dan menghindari tempat-tempat yang mewakili Barat atau tempat ibadah.

Pembelaan

Stephane Charbonnier membela keputusannya menerbitkan kartun nabi.

Peringatan perjalanan tersebut berlaku bagi warga Prancis yang berada antarai lain di Afghanistan, Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Pakistan, Irak, Libia, dan Yaman.

Perdana Menteri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan kebebasan berbicara memang dijamin di Prancis, tetapi harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu Stephane Charbonnier, redaktur majalah Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, membela keputusannya untuk menerbitkan kartun-kartun nabi.

“Kalau kita mulai mengatakan bahwa kita tidak bisa menerbitkan kartun-kartun ini karena ada risiko seseorang akan kaget maka kita akan mengurungkan niat membuat kartun lain karena akan ada tekanan terhadao kartun lebih lunak dan seterusnya dan kita akan berhenti membuatnya,” tuturnya.

“Kita membuat karikatur berbagai macam orang, setiap minggu, dan ketika kita membuat karikatur Nabi Muhammad atau sesuatu tentang Islam, ini disebut provokatif. Bukan, ini bukan provokasi. Ini tergantung siapa yang berada di baliknya, pembaca,” tambah Stephane Charbonnier.

Kantor majalah Charlie Hebdo dilempari bom molotov November tahun lalu setelah menerbitkan kartun serupa.

Islam melarang visualisasi Nabi Muhammad.

Sumber : bbc.com

Pesawat hilang di Kaltim

SAR masih cari pesawat hilang di Kaltim

Terbaru  25 Agustus 2012 – 12:37 WIB

Cessna memiliki sejumlah pesawat ringan dengan durasi penerbangan yang tidak panjang.

Proses pencarian pesawat Cessna dengan nomor penerbangan PA-31 yang hilang dalam penerbangan di wilayah Bontang, Kalimantan Timur masih terus dilakukan oleh tim SAR dan perusahaan pemilik pesawat tersebut.

Juru Bicara Badan SAR Nasional, Gagah Prakoso mengatakan proses pencarian dilakukan dengan dukungan satu helikopter milik perusahaan pemilik pesawat Cesna tersebut, PT Intan Angkasa dan sebuah pesawat kecil ringan.

Selain itu proses pencarian lewat jalur darat juga dilakukan oleh Tim SAR yang terdiri dari anggota Kepolisian, TNI AD dan Paskhas TNI AU.

“Saat ini sudah mengerahkan satu helikopter dan fixed wing (pesawat ringan kecil) untuk mencari pesawat tersebut. Satu helikopter tersebut dikerahkan perusahaan pemilik pesawat Cessna,” kata Gagah Prakoso kepada BBC Indonesia.

“Proses pencarian bergerak ke arah 22 nautical mile dari sekitar Bontang.”

Sebelumnya pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak dengan petugas pengontrol lalu lintas udara di Bandara Temindung, Kalimantan Timur pada Hari Jumat (24/8) pukul 08.04 WITA.

Hambatan pencarian

Pesawat dilaporkan hanya memiliki bahan bakar untuk terbang selama enam jam namun hingga waktu enam jam tersebut lewat pesawat belum melakukan kontak dengan menara pengawas dan tidak ada tanda-tanda pesawat akan kembali.

“Diperkirakan endurance-nya hanya enam jam dan dia belum mendarat di satu tempat ya ada beberapa kemungkinan..kita tidak tahu apakah jatuh atau mendarat darurat.”

Menurut Gagah pencarian pesawat ini kemungkinan akan mengalami sejumlah hambatan, selain karena faktor cuaca juga karena kecilnya pesawat dan hutan sekitar lokasi yang masih cukup lebat.

“Kalau pesawat kecil kalau masuk hutan seperti Kalimantan tanda-tanda crash (kecelakaan) tidak begitu terlihat karena bisa saja langsung masuk patahan-patahan dahan itu tidak terlihat dari atas,” jelas Gagah.

Pesawat tersebut kata Gagah sedang melakukan terbang rendah untuk melakukan survei dan membawa empat orang.

Mereka adalah Pilot Marshal Basir serta tiga orang lain bernama Suyoto, Hendrizal serta seorang Warga Negara Australia, Peter John Elliot.

Sumber : BBC © 2012

 

 

Anggaran open house presiden berlebihan

Anggaran open house presiden berlebihan

Terbaru  19 Agustus 2012 – 10:55 WIB

FITRA juga menilai anggaran upacara kemerdekaan ke 67 sangat berlebihan.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) merilis anggaran open house Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana pada Hari Raya Idul Fitri 1433 H, Minggu (19/8) mencapai Rp 1,6 miliar.

FITRA menilai anggaran sebesar itu hanya untuk menggelar open house sangat melukai hati rakyat miskin.

“Ini sangat mencederai perasaan orang-orang miskin yang selama ini mencari Rp 5.000 saja susahnya bukan main,”kata Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra Uchok Sky Khadafi pada BBC Indonesia

“Tapi presiden menunjukkan Rp 1,5 miliar ini gampang dihamburkan,” tambah Khadafi.

Menurut pantauan Fitra, dana sebesar itu diperuntukkan antara lain untuk pertemuan dengan diplomat, pejabat tinggi dan menteri yang menghabiskan anggaran hingga Rp 606 juta.

Selain itu ada perjamuan untuk karyawan sekretariat negara dan keperluan seperti pengadaan makanan kecil serta penyewaan tenda.

Bukan penghematan

Fitra menilai alokasi dana itu menunjukkan bahwa Yudhoyono tidak mempraktekkan apa yang selama ini ia katakan tentang penghematan.

“Kata-kata dia tentang penghematan hanya lip service saja dan dia selalu bicara soal penghematan. Tetapi tindakannya tidak selalu ketemu atau konsisten,” kata Uchok.

Sebelumnya Fitra juga mengkritisi anggaran Rp 7,8 miliar untuk upacara 17 Agustus dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang digelar di Istana Presiden Jakarta.

Temuan Fitra menunjukkan dana itu digunakan untuk biaya bingkisan tamu undangan mencapai Rp 1,7 miliar.

Anggaran lain untuk perlengkapan pendukung lainnya seperti pendingin ruangan dan kamera.

Data Fitra juga menunjukkan anggaran hampir Rp 900 juta untuk untuk sewa tenda dan kursi, serta pengadaan pakaian sipil lengkap (PSL) bagi pejabat teras, pejabat eselon III dan IV/

Anggaran lain yang jumlahnya cukup besar adalah untuk pembiayaan petugas perbantuan sebesar Rp 778 juta.

Sumber : BBC © 2012

Ambruknya jembatan di Cina untuk yang keenam kali sejak Juli 2011

Ambruknya jembatan besar di Cina

Terbaru  24 Agustus 2012 – 17:39 WIB

Sebagian dari jembatan Yangmintan di kota Harbin, Cina,yang dibangun dengan biaya lebih dari US$280 juta ambruk.

Kejadian jembatan ambruk ini adalah yang keenam di Cina sejak Juli 2011, kata kantor berita resmi Xinhua.

Empat truk terguling dari jembatan itu saat bagian sekitar 100 meter ambruk.

Jembatan sepanjang 15,4 kilometer itu baru selesai dibangun sembilan bulan lalu dan dibuka untuk umum bulan November lalu.

Bagian dari jembatan itu “miring dan kemudian ambruk” kata pejabat konstruksi kota Harbin seperti dikutip Xinhua.

Nama Asli TUHAN: “YAHWE”

“NAMA ASLI” TUHAN: “YAHWE”

Quote:

(penuturan dari seorang jemaat)

baru2 ini saya  dan beberapa anggota keluarga saya mendapat pemuridan dari seorang pendeta.
mereka menamakan diri Jemaat Yerusalem baru Nasrani Sejati. nama gerejanya tidak perlu saya sebutkan supaya tidak menjadi pertentangan yang besar.
tapi setelah saya pelajari lagi,pengajarannya menurut saya menyimpang (sesat).saya sudah menjelaskan pada anggota keluarga saya untuk berhati2,tapi sepertinya usaha saya selalu gagal.
di bawah ini akan saya jelaskan pengajarannya, beserta ayat2 yg dia berikan sebagai pengajarannya.

Quote:

letak kejanggalan dialiran ini menurut saya:
1. Menekankan selalu pada Nama (Yahweh/ Yeshua)
2. mengambil ayat hanya sepotong2, tidak membaca secara keseluruhan maksud dan konteks    dari ayat tersebut
3. menganggap Tafsiran dia yang paling benar. jika ada pendeta yang menafsirkan berbeda dengan dia, di anggap salah
4. mengajarkan/ mewajibkan untuk baptis ulang menggunakan nama Yahweh/ Yeshua
5. mengganti semua Lagu2 yang sudah ada, dan juga menciptakan lagu sendiri

Quote:

awal mula : pendeta ini memberitahukan bahwa nama seseorang tidak bisa di terjemahkan,apalagi nama Tuhan kita. Contoh nama Eko menjadi One (inggris), siji (jawa), satu (indonesia).
Penjelasan :
Barangkali Pendeta itu disamping belajar theology, dia juga perlu punya pengetahuan yang cukup mengenai sejarah dan athropology budaya, dan janganlah akibat kekurang-pengetahuannya itu kemudian memaksa jemaatnya berpikiran sempit seperti dirinya:

Mari memahami budaya dan sejarah masa itu. Pada saat dan setelah Alexander Agung menjadi penguasa Palestina dan sekitarnya, bahasa Koine Yunani menjadi bahasa yang lazim digunakan oleh para pedagang dan kaum cerdik pandai, dan hal ini berlanjut sampai zaman Perjanjian Baru (dalam Alkitab), Bahasa Yunani di kala itu mirip dengan bahasa Inggris masa sekarang yang menjadi bahasa Internasional yang menghubungkan budaya dan perdagangan antar-bangsa. Dan kemudian disana lazim pula orang-orang mempunyai nama Ibrani dan nama Yunani, ataupun nama Ibraninya di-Yunanikan, dan nama/ panggilan dari seseorang bisa lebih dari satu, misalnya :

1. Matius (Yunani: ‘MATTHAIOS’; Ibrani: “MATITYAH” atau “MATITYAHU”) berarti “pemberian dari YAH/ YHVH/ TUHAN“.
Pesyita Aramaik dan HaBrit HaKhadasya menulis kata itu dengan “MATHAY”. Kata itu dalam Perjanjian Lama terjemahan LAI tidak ditulis Matius melainkan Mataca. Matius (Nama Yunani) Penulis Injil itu juga bernama “LEWI” (nama Ibrani, Lukas 5:27).

2. Petrus (Yunani: ‘PETROS’). Ia juga disebut dalam nama bahasa Aram “KEFAS,” dan ia juga memiliki nama Ibrani SIMEON yang juga disebut SIMON (Kisah 15:14; 2 Petrus 1:1, tetapi dalam terjemahan Bahasa Indonesia, semuanya menjadi Simon)

Dan lain sebagainya.

Demikian pula dengan nama “YESUS” (Yunani: IÊSOUS), nama tsb adalah nama yang sudah di-Yunanikan, berasal dari kata Ibrani יהושוע – YEHOSYUA’ atau YEHOSHUA, yõd – hê’ – vâv – syïn – vâv – ‘ayin, di era pembuangan ke Babel, karena pengaruh bahasa Aram, maka nama ini disingkat menjadi ישוע – YESYUA’ atau YESHUA. Hal ini ibarat nama Alexander menjadi Alex saja.

Nama YESUS KRISTUS dalam berbagai bahasa:

Ibrani:
ישוע המשיח
YESYUA HAMASYIAKH

Yunani:
Ο Ιησούς Χριστός
Ho Iêsoús Khristós

Arab:
يسوع المسيح
Yswʻ al-Msyḩ

Jepang:
イエスキリスト
Iesukirisuto

Korea:
맙소사
mabsosa

Thailand:
พระเยซูคริสต์
Phra yesū khris̄t̒

China (Simplified Version):
耶稣基督
Yēsū jīdū

India (Hindi):
यीशु मसीह
Yīśu masīha

Rusia:
Иисус Христос
Iisus Hristos
Penyebutan nama-nama Yesus dalam berbagai bahasa ini tidak perlu dipersoalkan. Allah kita mengerti dan Dia bertindak ketika anak-anak-Nya memanggilnya dalam berbagai bahasa.

Quote:

nama yang benar haruslah menggunakan Yahwe, Yeshua Hamasiah. Nama Yesus tidak ada artinya.

Penjelasan :

Jikalau pendeta itu benar2 mau kembali mengakar kepada hal2 yg bersifat ke-Ibrani-ibranian. Seharusnya dia tahu bahwa orang Israel tidak mengeja 4 huruf suci (YHVH) itu, mereka setiap ketemu huruf “YHVH” mereka menyebutnya dengan “Adonay” (Tuhan), atau “Ha-Syem” (Sang Nama). Ini juga merupakan bukti bahwa pendeta itu kurang pengetahuan dan tidak paham anthropology budaya. Belajar bahasa bukan cuma tahu arti harfiah setiap kata-kata, tetapi harus tahu juga TATA KRAMA dan KAIDAH yang berlaku. Orang Yahudi tentu menertawakan dan menganggap kalangan Kristen type ini sembarangan menggunakan/ mengucapkan 4 huruf suci itu sebagai “LASYON HARA”. Maunya kembali ke “akar Yahudi”, padahal justru banyak menabrak tata-krama dan kaidah yang berlaku.

Itulah mengapa dalam setiap menyajikan terjemahan interlinear, saya selalu memberi keterangan pada setiap huruf YHVH itu tidak di-eja dengan YEHOVAH/ YAHWEH tetapi dibaca dengan ‘Adonay. Sebab itulah “tata-krama” nya, satu contoh:

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonay, TUHAN} ‘ELOHEYNU {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonay, TUHAN} EKHAD {esa}
Kalau pendeta itu mengatakan bahwa nama “YAHWE/ YAHWEH” adalah yang paling benar, hal itu masih “debatable”, sebab ada yang menganggap justru “YAHWE/ YAHWEH” itu bukan kata Ibrani/ tidak berasal dari pengucapan Ibrani.
Pendapat itu dapat diterima juga sebagai suatu masukan bagi kita, apalagi dengan menimbang bahwa TIDAK ADA ORANG YAHUDI/ BERAGAMA YAHUDI YANG MENGUCAPKAN KATA “YAHWE/ YAHWEH”.

Sekarang kita bahas mengenai nama Yesus Kristus, nama ini adalah “transliterasi” dari bahasa Yunani ιησους χριστος – IÊSOUS KHRISTOS

* Ibrani 13:8
LAI TB, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
KJV, Jesus Christ the same yesterday, and to day, and for ever.
Naskah bahasa asli Yunani: Textus Receptus (TR), ιησους χριστος χθες και σημερον ο αυτος και εις τους αιωνας
Translit, iêsous khristos khthes kai sêmeron ho autos kai eis tous aiônas
Sudah dijelaskan di atas bahwa dalam budaya masa itu lazim bahwa orang Yahudi itu mempunyai nama lebih dari satu, nama Ibrani, nama Aram, dan nama goyim (Yunani). YESYUA HAMASIAKH nama Yunani nya adalah IÊSOUS KHRISTOS. Dan nama IÊSOUS KHRISTOS ini ditulis dalam naskah Alkitab Bahasa Asli Perjanjian Baru: bahasa Yunani.

Jadi, apabila si pendeta itu menolak nama “Yesus Kristus/ Iêsous Khristos”, ia menolak autograph (tulisan asli) para rasul yang menulis Alkitab dalam Bahasa Yunani.

Kembali kepada “Nama Yahweh”:

Nama Sang Khalik dalam Perjanjian Lama adalah YHVH, yod-he-vav-he, bukan Yehovah dan bukan Yahwe/ Yahweh. Yehovah adalah penyisipan vokal ‘adonay dalam tetragrammaton YHVH sedangkan Yahweh adalah transliterasi YHVH dalam bahasa Yunani — bukan Ibrani. Dan nama “YAHWE/ YAHWEH” itu BUKAN nama Bapa di surga, selidiki asal-usul nama ini. Di bagian manakah Alkitab Perjanjian Baru yang menulis bahwa Yesus Kristus mengajar kita memanggil Bapa “Yahweh”?

Dan coba uji kebenaran tulisan di bawah ini:

Tulisan ini menyatakan bahwa tahun 1567 seseorang bernama Genebrardus menemukan bahwa nama Sang Khalik adalah IAHVE, JAHVE (Chronographia, Paris, 1567). Bagaimana kisahnya? Ternyata Genebrardus meminjam istilah Klemen dari Aleksandria dari kalangan Platois Gnostik, ejaan Yunani dari nama dewa Zeus yaitu IAOVE, yang juga dikenal sebagai JOVE, dewa Yupiter Romawi. Ejaan IAOVE ini diubah menjadi YAOVE kemudian menambah huruf H dan membuang huruf O sehingga menjadi YAHVE.
Agar penemuannya ini ada dukungannya, ia mengutip pula Alkitab Samaria yaitu kata IABE. Diubahnya menjadi YABE, dan terakhir mengubah B menjadi V sehingga menjadi YAVE, tinggal disesuaikan dengan empat huruf sakral YHVH yakni menambah dua huruf H di tengah dan di akhir kata, jadilah YAHVEH.
Ini menurut tulisan tadi, bukan pendapat saya.

Jika seandainya tulisan di atas benar, berarti “Yahweh” adalah nama dewa Yunani Zeus atau nama dewa Romawi Yupiter…

 

Quote:

semua pengajaran yang dia berikan memang mengarah ke Ibrani,karna menurut dia, Ibrani adalah umat pilihan Tuhan, jadi akar keselamatan semua nya harus kembali ke Ibrani dan kitab suci abad 1. kita suci setelah lewat abad 1 di anggap sudah berkurang ke asliannya.
jadi dia menganggap semua gereja yang masih menggunakan nama Yesus, Allah, Tuhan adalah salah, karena melanggar perintah Yahwe

Penjelasan :

Kitab Suci Autograph, Perjanjian Baru, pada abad ke-1 Masehi ditulis dalam bahasa Yunani, bukan Ibrani.

Mengenai nama “Yahwe/ Yahweh”, sudah dijelaskan di atas bahwa nama ini justru tidak berasal dari bahasa Ibrani.

Kalau pendeta itu mengharuskan kembali ke akar Ibrani. Dia harus mengerti bahwa bahasa Ibrani “bukan bahasa Surga”. Terbukti atas kehendak Allah bahwa Ia mengizinkan bahasa asli Perjanjian Baru tidak lagi ditulis dengan bahasa Ibrani, melainkan menggunakan bahasa GOYIM, yaitu bahasa Yunani. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak hanya bicara dalam bahasa Ibrani, tetapi Ia juga berkenan berbicara dalam bahasa-bahasa goyim, non Yahudi. Hal ini juga merupakan pertanda bahwa keselamatan tidak terbatas kepada bangsa Yahudi tetapi kepada semua bangsa di dunia.

Quote:

berikut ayat yg mendukung perkataan tersebut :

Ulangan 12:5 Tetapi tempat yang akan dipilih Yahwe Elohim mu , dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.

Penjelasan :

Ayat ini mempunyai konteks:

Silahkan pahami, kepada siapa ayat ini ditujukan? Kepada segenap Israel.
Apakah si pendeta itu, Anda, dan saya adalah termasuk dalam suku-suku Israel?

Pahami juga apa latar belakang ayat ini?
Perikop ini (ayat 1-28) berbicara mengenai tempat Ibadah. Apakah kita, umat Kristen, harus beribadah pada tempat tertentu saja? Tidak!
Tuhan Yesus Kristus sendiri mengajar bahwa “Kiblat” atau tempat ibadah tidak lagi berorientasi fisik.

Mengenai “menegakkan Nama”, benarkah nama yang dimaksud adalah “Yahwe/ Yahweh”?
Sudah dijelaskan bahwa nama “Yahwe/ Yahweh” justru tidak berasal dari bahasa Ibrani.


Quote:

jadi kita harus ke gereja dia, karena untuk saat ini hanya gereja dia yg menggunakan nama Yahwe/Yeshua. gereja lain menggunakan Yesus

Penjelasan :

Hehe… rupanya itu cuma “strategi marketing” si pendeta itu saja supaya gerejanya penuh & banyak cabang

Saya justru prihatin dengan maraknya “gereja-gereja baru”, “denom-denom baru”. Begitu ngasal nya orang membuat gereja. Asal berani ngomong (khotbah) dia jadi pendeta dan mendirikan jemaat.
Gereja-gereja baru, didirikan dari gereja yang pecah, dan dari pecahan itu, pecah lagi, jadi gereja2 baru yang lain, dan muncul lagi, dengan macam2 pemimpin gereja yang pengajarannya yang belum tentu benar.

Quote:

dia mengatakan kalau kita harus menggunakan nama Yahwe/ Yeshua, tidak boleh Yesus?

ini jawabannya
Yehezkiel 36:21 Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang

Penjelasan :

Nama yang dimaksud, bukan harfiah “nama” (YHVH, atau ‘ELOHIM, atau ‘ADONAY, dsb…), tetapi menyangkut Pribadi Allah secara keseluruhan.

Nama dalam Alkitab sedikit berbeda dengan pemakaian nama sebagai rujukan seperti dalam bahasa Indonesia, atau bahasa Inggris. Dalam bahasa Ibrani, nama adalah pribadi itu sendiri, nama adalah pribadi yang diungkapkan dan nama itu adalah pribadi yang hadir secara aktif. Contoh:

* Yesaya 30:27
LAI TB, TUHAN datang menyatakan diri-Nya dari tempat-Nya yang jauh—murka-Nya menyala-nyala, Ia datang dalam awan gelap yang bergumpal-gumpal, bibir-Nya penuh dengan amarah, dan lidah-Nya seperti api yang memakan habis;
KJV, Behold, the name of the LORD cometh from far, burning with his anger, and the burden thereof is heavy: his lips are full of indignation, and his tongue as a devouring fire:
Hebrew,
הִנֵּה שֵׁם־יְהוָה בָּא מִמֶּרְחָק בֹּעֵר אַפֹּו וְכֹבֶד מַשָּׂאָה שְׂפָתָיו מָלְאוּ זַעַם וּלְשֹׁונֹו כְּאֵשׁ אֹכָלֶת׃
Translit, HINEH SYEM (nama) –YEHOVAH (YHVH, dibaca: ‘Adonay) BA’ MIMERKHAQ BO’ER ‘APO VEKHOVED MASA’AH SEFATAV MAL’Û ZA’AM ULESYONO KE’ESY ‘OKHALET
Mengapa Yesaya berkata “SYEM-YHVH” (nama TUHAN) datang, dan tidak sederhana saja TUHAN datang? Baik YHVH, ‘EL, ‘ELOAH, dan ‘ELOHIM dalam bahasa Ibrani adalah SYEM alias nama. Nama itu adalah pribadi, hadir secara aktif dalam kepenuhan dan sifat yang diungkapkan.

Quote:

Tuhan merasa sakit hati jika kita salah menyebut nama dengan memanggil Yesus

Ulangan 12:6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu

Ulangan 12:11 maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN

Penjelasan :

Kalau ayat di atas dipakai sebagai dasar. Apakah orang Kristen masih dituntut membawa “korban sembelihan, korban bakaran” sebagaimana orang Israel?
Bukankah Hukum Taurat itu tidak mengikat orang Kristen?

Quote:

dengan kata lain kita harus Perpuluhan ke gereja dia. karena gereja lain bukanlah tempat yang di pilih Yahwe, karena tidak menegakkan nama Yahweh/Yeshua (masih menggunakan Yesus)

Penjelasan :

Aha… rupanya ini strategi si pendeta untuk meraup uang untuk kantong nya saja. Ini namanya membodohi jemaat.

Orang Kristen tidak dituntut mempersembahkan persepuluhan sebagai kewajiban atau sebagai pelaksanaan tuntutan hukum sebagaimana Hukum Taurat menuntut kaum Israel mempersembahan macam-macam persembahan: Korban bakaran, korban sembelihan dan persepuluhan.

Orang Kristen memberikan persembahan kepada gereja, atas sikap kasih bukan karena memenuhi tuntutan hukum Taurat.

Quote:

ini hukuman buat para pendeta2 yang menolak ajaran ini

Maleakhi
2:1 Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam!
2:2 Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan.
2:3 Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu.

Penjelasan :

Yang dimaksud “Menghormati nama-Ku” bukan berarti nama “YAHWE/ YAHWEH”, toh nama ini justru tidak berasal dari bahasa Ibrani. Tidak ada orang Yahudi asli yang mengucap kata “YAHWE/ YAHWEH” untuk menyebut nama Tuhan-nya. Mereka bahkan tidak mengeja “4 huruf suci”.
Pendeta ini justru tidak paham bahasa Ibrani, sebab dalam kaidah bahasa Ibrani YHVH tidak diucapkan.

Maksud dari “Menghormati nama-Ku” tidak hanya harfiah “nama” (YHVH, ‘ELOHIM, ‘ADONAY, dll) melainkan perhormatan kepada pribadi Allah secara keseluruhan. Sebagaimana diungkapkan dalam Yesaya 30:27 (di atas).

Quote:

Untuk poin2 di atas,sebenarnya saya sudah menjelaskan penafsiran yang benar menurut alkitab.sabda.org tapi semua nya di tolak

Penjelasan :

Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri
Pendeta itu sedang mengajarkan pengertiannya sendiri, dan dia sendiri pun masih kurang banyak belajar, malahan dia sedang menyebarkan hasil pemikirannya yang sempit itu.

Maka sebagai jemaat, kita semua harus bersikap kritis. Jangan asal telan semua khotbah pendeta, terutama aliran2 baru yang mengklaim ajaranya yang paling benar, justru menjadi “alert” bagi kita mempertanyakan “kebenaran” yang di-klaim-nya.
Kita, disamping mendengar khotbah, bersekutu di gereja dalam penggembalaan gereja tertentu, kita juga perlu belajar Alkitab sendiri dengan mohon penyertaan Roh Kudus, dan juga perlu belajar secara kolektif dengan sesama Kristiani lainnya untuk bertukar pikiran (besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya, Amsal 27:17).
Kita semua perlu belajar Alkitab dan pengajarannya secara aktif untuk tidak mudah digiring oleh sikap fanatisme kepada ajaran pendeta tertetu yang mengklaim ajarannya yang paling benar.

Blessings in Christ…

 

 

Let Joy Guide You

Good parenting begins within your child, not yourself

By Winn Collier

Last winter, while my wife Miska was traveling, I tended to the house and our two boys. I was downstairs early one morning, enjoying a quiet house and fresh coffee. I heard the pitter-patter of feet on the hardwoods above, the wild tribe arising.

Soon, my quiet space was overcome by raucous energy. Then came breakfast and the rush-to-school madness. No one would mistake me for being proficient at such things. My instructions evolved into a flurry of questions and commands: Brush your teeth, put on your socks, grab your backpacks. Did you brush your teeth—where’s your hoodie—did we eat breakfast? Socks, boys, socks. Brush. Your. Teeth!

Exhausting.

I finally herded the boys to the front door. When I followed, I noticed Wyatt standing underneath the coat rack, mostly hidden by scarves and jackets and hats. Looking closely, you could make out two little legs and two little tennis shoes. Wyatt was holding his breath, convinced he was invisible.

I didn’t play along. The clock ticked. My nerves were sufficiently taut. I tapped his shoe and, more gruffly than necessary, said, “Come on, Wyatt, let’s go.”

He did. Wyatt piled out of the mound of clothes, grabbing his bag. But before heading to the car, he said, “Dad, you didn’t even laugh.”

Oh how I wish I had. In that moment, what my son needed most was not to arrive at school on the dot, keeping my schedule in tact. Rather, Wyatt needed his dad to join him in his joy, to take pleasure in his boyish antics. Wyatt’s heart was awake and open in that mischievous moment, and I missed it. I missed him.

Good parenting requires paying attention to a child’s unique heart and to the particular moments when we are offered a peek into his soul.  Paul tells parents not to “embitter [their] children,” or else “they will become discouraged” (Col. 3:21 NIV). This word embitter means to provoke or irritate. There are many ways this manifests, but I’m attuned to two. We irritate our children when we prod them but don’t truly see them. We provoke them when our commitment is to adjusting their behavior more than cultivating their joy. Joy is a word that dances and sings. It suggests freedom and play.

While we often note Scripture’s instruction to discipline our children, we may need to broaden our sense of what Scripture means by this. Discipline need not evoke grainy images of rigid schoolmasters with harsh words and unyielding temperaments. To discipline means simply to teach or train. We train our children toward good morals and wise judgments. We teach them respect and diligence. Most of all, we teach them to love God.

However, love without joy isn’t love but lifeless obligation. Teaching our children to love and follow God means guiding them in the art of joy.

The Gospels tell us that joy provides one of the sure signals that we have encountered the true life of God’s kingdom (Matt. 13:44). When God’s life runs free in our heart or our home, joy brims over. Joy was no small matter to Jesus. For Him, it was a prime directive. In fact, Jesus taught truth, died on a cross, and rose from the dead, all for the sake of joy—all so that our “joy may be full” (John 15:11 NKJV).

This means we have a powerful clue to help us nurture our children toward their unique way to know and obey God: we look for their joy. We watch for the ways their heart comes alive, for those tender occasions when they simply can’t restrain delight.

My son Wyatt believes that if five words will do, then fifty will do better. He loves to explain and question and talk around a thing, from every possible angle. Sometimes it’s hard on my weary ears. However, there’s something for me to discover about my son amid this joyful expression.

What does it tell me about who Wyatt is and where he might encounter God? What does Wyatt’s joy ask me to surrender? For him, spiritual instruction won’t be primarily me teaching while he’s listening. Rather, I need to ask questions and provoke his imagination, and most importantly, sit back and listen to what he offers in response.

With our younger son Seth, it’s music, painting, and physical exertion that unleashes his joy. Leading Seth into faith means helping him encounter our God of beauty and action, a God of mysterious grace as well as stunning power.

Watching for joy allows me glimpses into the unique life God’s Spirit has crafted in my sons. Leading my boys toward joy is, in fact, leading them toward God.

Copyright 2012 In Touch Ministries, Inc.

Sisi Gelap Sejarah Malari 1974

Sumber: Kompas 16 Januari 2003

KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor

dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan”, diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai wacana

Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai “petrus” (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober”.

Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166).

Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.

Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo?

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.